Senin, 10 November 2014

Asal Mula Masa Paskah



 Asal Mula Masa Paskah


Akhirnya, hari ini umat Nasrani sejagad merayakan kebangkitan Kristus, yang disebut PASKAH. Berarti kebangkitan Yesus Kristus dari kematian dan kebangkitannya memberikan pengharapan bagi yang percaya kepadaNya.
Paskah, sebelum dirayakan seperti sekarang ini, dulunya dirayakan sebagai Passover. Yaitu peringatan keluarnya  segenap umat Israel dari keturunan Yakub bin Ishak bin Abraham, keluar dari perbudakan di Mesir selama sekitar 400 tahun. Harap dibedakan umat Israel pada saat itu adalah benar-benar berasal dari Israel, yaitu dari keduabelas anak laki-laki Yakub, yang mendapatkan nama Israel diberikan oleh Allah sendiri setelah Yakub bergulat dengan Allah di tempat yang bernama Betel. Israel berarti menang bergulat melawan Allah. Sedangkan bangsa Israel yang zaman kini, adalah keturunan dari sisa-sisa bangsa Israel yang masih bertahan di zaman pembuangan di negeri Babel (Kerajaan Media-Persia].
Kembali ke Passover, di mana oleh Nabi Musa, sekitat 2 juta umat Israel dibawa keluar dari Tanah Mesir, dan kejadian Passover sendiri dimulai dengan permintaan dari Allah untuk segenap umat Israel di daerah Goshen, menyapukan darah dari anak domba sulung di abang atas da kedua tiang pintu rumah temp[at tinggal mereka, dan segenap umat tsb pada malam sebelum keluar dari Mesir, diharuskan makan dari anak domba yang darahnya dicurahkan tsb, beserta roti tidak beragi, dan sikap makannya pun sambil berpakaian lengkap berjaga-jaga dengan tongkat di tangan, seperti dikisahkan pada Kitab Keluaran (Exodus).
Demi memperingati peristiwa itulah, maka sebelum kematian dan kebangkitan Kristus, warga Yahudi dan penganut agama Yahudi, memperingati peristiwa tsb dengan merayakan Passover setiap tahunnya. Inipun dilakukan Yesus Kristus beberapa jam sebelum dibawa ke hadapan Mahkamah Agama. Yesus Kristus bersama keduabelas muridNya makan perjamuan Paskah bersama, sebuah perjamuan terakhir Kristus, di mana dalam perjamuan itu disediakan roti tidak beragi yang dipecah-pecahkan sebagai lambang tubuh Kristus yang dipecahkan/disiksa, dan anggur yang melambangkan darah Kristus yang dicurahkan.
Dari perjamuan terakhir itulah, menjadi standar bagi umat Nasrani sejagad untuk mengadakan Sakramen Perjamuan Kudus, di mana selalu tersedia roti tidak beragi dan anggur, sesuai aturan gereja masing-masing. Namun hanya umat Nasrani yang sebelumnya telah menerima Sakramen Baptisan Kudus, yang boleh ambil bagian dalam Sakramen Perjamuan Kudus tersebut.
Perayaan Paskah yang sekarang disebut Easter, identik dengan berbagai simbol dan tentunya : komersialisasi. Tulisan ini tidak akan membahas sal sisi komersialisasi Paskah, namun ingin mengajak kita untuk lebih mengenal beberapa simbol yang sering diidentikkan dengan Paskah.

Anak Domba
Jelaslah, bukan Jumat Agung dan Paskah kalau tidak ada anak domba. Simbol anak domba ini melambangkan Kristus sebagai Anak Domba Allah (Agnus Dei) yang dikorbankan. Menurut beberapa catatan sejarah, di Eropa, sangat umum makanan yang dibuat dari daging anak domba disajikan pada Minggu Paskah, termasuk menjadi santapan Paskah bagi Paus, pemimpin tertinggi umat Katholik. Apakah masakan dari anak domba disajikan secara utuh dipanggang atau dibuat menjadi masakan daging yang berpotongan kecil-kecil, pokoknya untuk Minggu Paskah itu masakannya istimewa,  hidangan dari daging anak domba.
Ada juga beberapa catatan yang menuliskan, adalah sebuah keberuntungan jika seseorang tanpa direncanakan menjumpai anak domba. Katanya, ada tahayul yang percayai hal, bahwa si Iblis dalam segenap kemampuannya berubah wujud menjadi apapun, tidak pernah diperkenankan berubah wujud menjadi anak domba, karena anak domba merupakan simbol religius dan hanya untuk melambangkan Yesus Kristus Sang Mesias,  Anak Allah. Benar tidaknya tahayul tsb, ya, walahualam. Yang jelas kalau menyantap daging anak domba panggang pasti nikmat, lah,  asal tidak kebanyakan. Ingat asam uratnya…


Telur
Merupakan simbol Paskah yang paling umum diingat orang-orang bahkan oleh para non Nasrani. Sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara kebangkitan Kristus dengan telur, apapun asal telur itu, apakah dari ayam, dari bebek, dari burung unta atau dari dinosaurus sekalipun, tapi karena di beberapa budaya kuno Eropa, telur itu melambangkan kesuburan, dan kehidupan baru, ketika sesosok makhluk yang baru, muncul mendobrak cangkang telur dan menjadi suatu individu yang hidup. Kemdian ketika masa penyebaran ajaran Kristen, cangkang telur itu lambang dari makam batu tempat  tubuh Yesus Kristus dibaringkan setelah diturunkan dari salib dan dikafani.  Di hari kebangkitanNya, Kristus keluar menyongsong kehidupan yang baru setelah sukses mengalahkan kuasa maut, dilambangkan sebagai cangkang telur yang dipecahkan oleh individu baru.
Tidak heran dalam beberapa tradisi gereja tertentu, ada pantangan menyantap telur selama Masa Prapaskah.  Kemudian dalam perkembangannya, atas alasan praktis,  telur dijadikan bingkisan tanda sukacita Paskah, karenanya kita bisa temukan telur-telur hias dengan warna-warna cerah, berdoa memohon berkat atas telur-telur hias tsb sebelum akhirnya dijadikan santapan Paskah. Kemudian berkembang lagi menjadi permainan ketika anak-anak berlomba untuk menemukan sebanyak-banyaknya telur-telur hias yang sudah disembunyikan. Dipercaya, semakin banyak telur yang diperoleh, semakin banyak pula berkat yang didapat si anak. Tidak heran, acara menemukan telur Paskah menjadi suatu permainan yang disukai anak-anak Sekolah Minggu.
Tradisi telur Paskah untuk orang dewasa, ditemukan dalam catatan tradisi Irlandia, ketika telur-telur Paskah diberikan sebagai hadiah Paskah. Jumlah telur yang dihadiahkan ditentukan menurut pepatah kuno Irlandia : “Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin (pengemis).” Nah, kepada para Pembaca, maunya berapa telur?

 Kelinci
Sebenarnya tidak ditemukan alasan pasti mengapa kelinci si hewan pengerat ini bisa dihubungkan dengan Paskah menjadi Easter Bunny. Kelinci sebenarnya menjadi lambang kesuburan dalam beberapa kebudayaan sebelum ajaran Kristen berkembang. Perkara Si hewan ini dihubungkan dengan Paskah, kemungkinan diambil dari satu kebudayaan di wilayah selatan Jerman yang mempercayai para kelinci adalah hewan yang membawa telur-telur berwarna merah yang diletakkan sebelum peringatan Kamis Putih, dan telur yang berwarna-warni pada malam Paskah.
Ada juga yang mengaitkan daging kelinci yang termasuk kategori daging putih, dan karena putihnya daging si kelinci, makanya kelinci dianggap sebagai hewan suci. Tapi apapun alasannya, menyantap daging kelinci, entah disate, entah dipanggang atau disup, ya, pasti enak, lah. Mungkin saja rasa nikmat menyantap daging kelinci itu yang membawa sukacita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar